Minggu, 17 Juli 2011

Perguruan Setia Hati Winongo VS Perguruan Setia Hati Terate Madiun

RIWAYAT KI NGABEHI SOERODIWIRDJO

PENCIPTA “SETIA HATI”

1869 Ki Ngabehi Soerodiwirjo (nama kecilnya Masdan) lahir pada hari Sabtu Pahing. Beliau merupakan keturunan dari Bupati Gresik-Surabaya.

Ayahnya bernama Ki Ngabehi Soeromiharjo sebagai Mantri Cacar Ngimbang (Lamongan) yang mempunya 5 (lima) putera yaitu:

1. Ki Ngabehi Soerodiwirjo (Masdan)

2. Noto (Gunari), di Surabaya

3. Adi (Soeradi), di Aceh

4. Wongsoharjo, di Madiun

5. Kartodiwirjo, di Jombang

Saudara laki-laki dari ayahnya bernama R.A.A. Koesoemodinoto menjabat sebagai Bupati Kediri. Seluruh keluarga ini adalah keturunan dari Batoro Katong di Ponorogo, Putra Prabu Brawijaya Majahapit.

1883 Pada saat itu tersebut Ki Ngabehi Soerodiwirjo lulus sekolah rakyat 5 tahun (umur 14 tahun). Selanjutnya beliau ikut Ăśwonya”Mas Ngabehi Soeromiprojo, yang menjabat sebagai Wedono Wonokromo, kemudian pindah dan menjabat lagi sebagai Wedono Sedayu-Lawas, Surabaya.

1884 Pada tahun tersebut beliau telah berumur 15 tahun dan magang menjadi Juru Tulis op het Kantoor van de Controleur van Jombang. Sambil belajar mengaji beliau belajar Pencak-Silat yang meupakan dasar dari kegemaran beliau untuk memperdalam Pencak-Silat dimasa-masa berikutnya.

1885 Pada tahun berikutnya, dimana usia beliau telah menginjak 16 tahun, beliau magang di kantor Kontrolir Bandung, dan dari sini beliau belajar Pencak-Silat dari Pendekar-pendekar Prinangan, sehingga didapatlah jurus-jurs seperti:

² Cimande

² Cikalong

² Cipetir

² Cibeduyut

² Cimelaya

² Ciampas

² Sumedangan

1886 Pada usia 17 tahun beliau pindah ke Betawi (Jakarta), dan disana beliau memanfaatkan untuk memperdalam Pencak-Silat, akhirnya sampai menuasai jurus-jurus seperti:

² Betawen

² Kwitang

² Monyetan

² Permainan Toya (Stok spel)

1887 Pada usia 18 tahun beliau ikut Kontrolir Belanda ke Bengkulu, disana beliau belajar Pencak-Silat yang mana gerakannya mirip seperti jurus-jurus di daerah Jawa Barat. Pada pertengahan tahun tersebut beliau ikut Kontrolir Belanda pindah ke Padang, dan tetap bekerja pada bidang pekerjaan yang sama. Di darah Padang Hulu dan Padang Hilir, beliau tetap memperdalam pengetahuannya di bidang Pencak-Silat, dimana gerakannya berbeda bila dibandingkan dengan permainan Pencak-Silat dari daerah Jawa Timur, Jawa Tengah dan Jawa Barat. Di darah yang baru ini, Pencak Silat merupakan salah satu permainan kegemaran rakyat dan merupakan kebudayaan rakyat setempat.

Selanjutnya beliau berguru kepada seorang pendekar dan guru ilmu kebatinan yang bernama Datuk Raja Betua, dari kampung Alai, Kecamatan Pauh, Kota Padang. Pendekar ini merupakan guru beliau yang pertama kali di daerah Sumatra Barat. Datuk Raja Betua mempunyai seorang kakak yang bernama Datuk Penghulu, dan adiknya bernama Datuk Batua, dimana ketiganya adalah pendekar-pendekar yang termasyur dan dihormati masyarakat.

1897 Pada umur 28 tahun beliau jatuh cinta kepada seorang gadis Padang. Puteri dari seorang ahli kebatinan yang berdasarkan agama Islam (Tasawuf). Untuk mempersunting gadis ini beliau harus memenuhi bebana, dengan menjawab pertanyaan dari gadis pujaannya yang berbunyi “SIAPAKAH SESUNGGUHNYA MASDDAN” dan “SIAPAKAH SESUNGGUHNYA SAYA INI ?” (gadis pujaan itu ?). Karena beliau tidak dapat menjawab pertanyaan tersebut berdasarkan pikirannya sendiri, maka beliau berguru kepada seorang ahli Kebatinan yang bernama Nyoman Ida Gempol. Adalah seorang Punggawa Besar dari Kerajaan Bali yang di buang Belanda ke Sumatra (Padang), dan di kenal dengan nama Raja Kenanga Mangga Tengah (Bandingkan dengan nama Desa Winongo – Madiun – Tengah – Madya).

Kemudiaan pada tahun yang sama beliau belajar Pencak-Silat kepada Pendekar Datuk Raja Betua, selama 10 (sepuluh) dan memperoleh tambahan jurus-jurus dari daerah Padang, yaitu:

² Bungus (uit de haven van Teluk Bayur)

² Fort de Kock

² Alang – Lawas

² Lintau

² Alang

² Simpai

² Sterlak

Sebagai tanda lulus beliau mempersembahkan pisungsun yang berupa Pakaian Hitam komplit.

Selanjutnya, Ilmu Kebatinan yang diperoleh dari Nyoman Ide Gempol dipersatukan dengan Pencak-Silat serta Ilmu Kebatinan yang didapat dari Datuk Raja Betua, dimana olel Ki Ngabehi Soerodiwirjo digabungkan menjadi Ilmu dari PERSAUDARAAN “SETIA-HATI” WINONGO MADIUN.

v PERkimpoiAN

Akhirnya bebana yang diminta gadis pujaan beliau dapat dijawab, dengan menggunakan ilmu dari Persaudaraan “Setia-Hati” tersebut diatas. Dengan demikian beliau berhasil mempersunting gadis Padang, putri dari seorang ahli Tasawuf. Dari perkimpoian ini, beliau belum berhasil mendapatkan keturunan.

1898 Pada usia 29 tahun, beliau bersama istrinya pergi ke Aceh, dan bertemu adiknya (Soeradi) yang menjabat sebagai Kontrolir DKA di Lho Seumawe.

Di daerah ini beliau mendapatkan jurus::

² Jurus Kucingan

² Jurus Permainan Binja

Pada tahun tersebut, guru beliau Guru Besar Raja Kenanga Mangga Tengah O.G. Nyoman Ide Gempol diizinkan pulang ke Bali. Ilmu beliau dapat dinikmati oleh Saudara-saudara “S-H” dengan suatu motto::

“GERAK LAHIR LULUH DENGAN GERAK BATIN”

“GERAK BATIN TERCERMIN OLEH GERAK LAHIR”

1900 Ki Ngabehi Soerodiwirjo kembali ke Betawi bersama isteri, dan beliau bekerja sebagai Masinis Stoom Wals. Kemudian Ki Ngabehi Soerodiwirjo bercerai, dimana Ibu Soerodiwirjo kembali ke Padang, dan beliau pindah ke Bandung.

1903 Beliau kembali ke Surabaya dan menjabat sebagai Polisi Dienar hingga mencapai pangkat Sersan Mayor. Di Surabaya beliau dikenal keberaniannya dalam memberantas kejahatan. Kemudian beliau pindah ke Ujung, dimana sering terjadi keributan antara beliau dengan pelaut-pelaut asing

1903 Beliau mendirikan Persaudaraan “SADULUR TUNGGAL KECER – LANGEN MARDI HARDJO” pada hari Jum’at Legi 10 Syuoro 1323 H.

v PERkimpoiAN KE II

1905 Untuk kedua kalinya beliau melangsungkan perkimpoian dengan Ibu Sarijati yang saat itu berusia 17 tahun, dan diperoleh putera dari perkimpoiannya sebanyak 3 (tiga) orang putera dan 2 (dua) orang puteri, dimana semuanya meninggal sewaktu masih kecil..

1912 Beliau berhinti dari Polisi Dienar bersamaan dengan meluapnya rasa kebangsaan Indonesia, yang dimulai sejak tahun 1908. Beliau kemudian pergi ke Tegal dan ikut seorang paman dari almarhum saudara Apu Suryawinata, yang menjabat sebagai Opzichter Irrigatie.

1914 Beliau kembali lagi ke Surabaya dan bekerja pada D.K.A. Surabaya. Selanjutnya beliau pindah ke Madiun di Magazijn D.K.A. dan menetap di Desa Winongo Madiun.

1917 Persaudaraan “DJOJOGENDOLO CIPTO MULJO” diganti nama menjadi Persaudaraan “SETIA-HATI” Madiun.

1933 Beliau pensiun dari jabatannya dan menetap di desa Winongo Madiun.

1944 Beliau memberikan pelajaran yang terakhir di Balong Ponorogo (Saudara Koesni cs dan Soerjatjaroko) Kemudian beliau jatuh sakit dan akhirnya wafat pada hari Jum’at Legi 10 November 1944 jam 14:00 (Bulan Selo tanggal 24 tahun 1364 H), di rumah kediaman beliau di Winongo. Dimakamkan di Pesarean Winongo dengan Kijing batu nisan granit, serta dikelilingi bunga melati.

“SEMOGA ARWAH BELIAU DITERIMA DISISI TUHAN YANG MAHA ESA”

Sehabis pemakaman dibacakan ayat Suci Al Qur’an oleh Bapak Naib Jiwan untuk memenuhi pesan terakhir Ki Ngabehi Soerodiwirjo sebelum wafat dan diambilkan ayat “Lailatul Qadar” (Temurunnya Wahyu Illahi)

CATATAN: ada wahyu yang loncat dan akan temurun pada waktunya.

PESAN BELIAU SEBELUM WAFAT ADALAH:

1. Jika saya sudah pulang ke Rachmatullah supaya saudara-saudara “Setia-Hati” tetap bersatu hati, tetap rukun lahir bathin.

2. Jika saya meninggal dunia harap saudara-saudara “S-H” memberi maaf kepada saya dengan tulus-iklas..

Saya titip ibunda Nyi Soerodiwirjo selama masih di dunia fana ini..

Surat Yasin ayat 1 : Yasien Yasien “Allah saja yang mengetahui maksudnya”

Surat Yasin ayat 58: Salaamun Qaulam mir Rabir-Rahiem “Selamat Sejahtera itulah seruan Allah Yang Maha Pengasih”.

Asalnya: Bapak Soewarno, Pencak Silat Dalam Tiga Zaman

Rambik

Senjata khas Madiun

1903 VS 1922

News

Para pendekar yang diamankan

Peringatan Malam Suro Diwarnai Tawuran, 13 Pendekar Diamankan

Madiun – Menyambut Tahun Baru Jawa 1 Suro dan Hijriyah 1 Muharram di Kota Madiun diwarnai tawuran antara pendekar silat dari Perguruan Silat Terate (PSHT) dengan puluhan pemuda di Kota Madiun, Senin (29/12/2008) dinihari. Dari tawuran tersebut, polisi mengamankan 13 pendekar.

Ribuan pendekar pencak silat dari PSHT menggelar konvoi memperingati dan menyambut malam Tahun Baru Jawa 1 Suro dan Tahun Baru Hijriyah 1 Muharram 1430 H di Kota Madiun sejak Minggu sore hingga Senin (29/12/2008) dinihari. Selain itu, mereka juga berziarah di makam leluhurnya pendekar Terate di kawasan Kelurahan Pilangbangu dan Taman.

Usai berziarah, konvoi pendekar Terate itu dihadang puluhan pemuda di depan kantor PLN Manisrejo. Mendapat hadangan itu, sebagian pendekar turun dari mobil pick up dan mengambil bebatuan yang ada di sekitar lokasi dan melemparkan ke sekumpulan pemuda yang menghadangnya.

“Dalam aksi tersebut tidak ada korban jiwa. Tapi kita sudah mengamankan 13 pemuda yang diduga terlibat tawuran, bebatuan dan satu unit mobil pickup,” kata Kasat Reskrim Polresta Madiun AKP Eko Rudianto kepada detiksurabaya.com, Senin (29/12/2008).

Penangkapan 13 pemuda dari pendekar PSHT dilakukan di petugas dari Polsek Wungu. “Saat ini mereka masih kami mintai keterangan,” tambahnya.

Sementara Supangat (25) salah satu pendekar PSHT yang diamankan di Mapolresta Madiun, mengatakan dirinya tidak ikut terlibat tawuran, karena berada di atas mobil bersama 10 rekan lainnya. “Rombongan kita tidak tahu kalau di depan tawuran. Lah wong kita naik pick up di belakang,” katanya kepada detiksurabaya.com.

Dari pantauan detiksurabaya.com, pasca tawuran, aparat kepolisian saat ini masih terus melakukan patroli di jalan-jalan protokol. Terutama yang menuju malam leluhur PSHT kawasan Kelurahan Pilangbangau kecamatan Kartoharjo dan Kelurahan/Kecamatan Taman.

Sebelum tawuran, poisi menggelar razia terhadap pengguna kendaraan terutama pengendara motor. Dari razia tersebut, polisi mengamankan 8 pengendara motor yang kedapatan membawa barang bukti senjata tajam berupa pisau bandek.

Ribuan Pendekar Winongo Konvoi, Madiun Mencekam

Madiun – Suasana mencekam tampak di berbagai sudut Kota Madiun, Jawa Timur pada Minggu (4/11/2007). Sedikitnya 1.000 personel kepolisian dengan senjata laras panjang
berjaga-jaga di sepanjang jalan utama dan tempat keramaian di Kota madiun.

Pada hari ini, sedikitnya ribuan pendekar dari Perguruan Silat Persaudaraan Setia Tunas Muda (Winongo) melakukan halal bihalal yang dipusatkan di Desa Winongo, Kecamatan Mangunharjo, Kota Madiun.

Pengalaman sebelumnya, saat terjadi kerumunan pendekar maka aksi kekerasan, kriminalitas dan bentrok pendekar antar perguruan silat Winongo dan Setia Hati Teratai (SHT) kerapkali terjadi.

Pantauan detiksurabaya.com, setelah melakukan halal bihalal di Desa Winongo, ribuan pendekar Winongo kemudian melakukan konvoi dengan menggunakan sepeda
motor disepanjang jalan di Kota Madiun. Para pendekar tersebut memadati jalan dengan tidak mengindahkan peraturan lalu lintas dan meneriakkan yel-yel tentang
Winongo.

Walaupun aparat kepolisian tetap melarang mereka melakukan konvoi di jalan-jalan utama, namun tampaknya ribuan pendekar tetap melakukan konvoi di jalan utama
antara lain Jalan Pahlawan, Agus Salim dan melewati bundaran alun-alun Madiun. Akibat hal ini, Kota Madiun macet selama tiga jam lamanya.

Mengantisipasi jumlah pendekar yang melakukan konvoi semakin besar aparat kepolisian melakukan sweeping diberbagai jalan perbatasan Kota Madiun dengan daerah lain. Mereka yang memakai seragam kebesaran Winongo yang berpakaian hitam dilarang memasuki Kota Madiun.

Data yang dihimpun detiksurabaya.com, personel kepolisian yang dikerahkan berasal dari Kepolisian Resort (Polres) Kabupaten Madiun, Polresta Madiun,
Polres Ngawi, Magetan dan Kepolisian Wilayah (Polwil) Madiun.

Konvoi dan kerumunan massa di sepanjang kota Madiun akhirnya bubar dengan sendirinya setelah petugas kepolisian berhasil memecahkan rombongan konvoi menjadi dua bagian dan digiring menuju keluar dari Kota Madiun.

Kepala Satuan Reserse Kriminal Polresta Madiun, AKP Tjanu mengatakan, belum ada pendekar yang diamankan pihaknya karena telah melakukan aksi kriminalitas saat
konvoi berlangsung.

“Kami akan menahan mereka jika kami melihat ada yang melakukan aksi pelemparan, penjarahan atau tindakan kriminalitas lainnya,” ujarnya.

Dia menambahkan, jika pengamanan ketat Kota Madiun akan dilakukan hingga besok untuk menghindari terjadinya bentrok pendekar antar perguruan silat.

Konvoi Pendekar Setia Hati, 2 Rumah Rusak

Magetan – Beberapa orang yang mengaku pendekar dan memakai pakaian dari Perguruan Silat Setia Hati Teratai (SHT) berupaya melakukan perusakan di rumah-rumah warga yang terletak di Desa Sambirejo dan Madigondo, Kecamatan Takeran, Magetan, Minggu (11/11/2007).

Dengan berkendara sepeda motor, mereka melempar rumah warga setempat dengan batu atau kerikil. Amukan mereka terjadi saat konvoi kepulangan para pendekar setelah menghadiri halal bihalal di Karangjati, Ngawi.

Dampaknya, warga yang berada di wilayah tersebut ketakutan dan memilih berdiam diri di dalam rumah. Rumah-rumah warga dan toko ditutup hingga para pendekar selesai melintas.

Toko-toko yang berada di sepanjang jalan tersebut juga tak luput dari sasaran para pendekar. Mereka berusaha membuka toko dan mengambil berbagai barang dagangan. Namun upaya penjarahan ini digagalkan oleh kepolisian yang sudah berjaga-jaga.

Melihat polisi sudah berjaga-jaga, mereka semakin mengamuk dan melakukan konvoi dengan ugal-ugalan serta tak mematuhi peraturan lalu lintas yang ada.

Sementara pengguna jalan, baik pengendara sepeda motor maupun kendaraan roda empat memilih menepikan kendaraannya agar terhindar dari amukan para pendekar yang pulang dari halal bihalal pendekar teratai se-eks karisidenan Madiun.

Agar bentrokan dan perusakan para pendekar ini terjadi, ratusan polisi yang dikerahkan dari Kepolisian Magetan dan Madiun menutup jalur transportasi hingga para pendekar ini selesai berkonvoi.

“Kami belum menghitung kerugian karena amukan para pendekar tersebut. Karena hingga saat ini suasana belum tenang dan warga memilih berada di dalam rumah,” jelas Humas Pemkab Magetan, Willy Ristanto.

Rusak Rumah Warga, 7 Pendekar Teratai Jadi Tersangka

Magetan – Tujuh pendekar yang berasal dari Setia Hati Teratai (SHT) ditangkap polisi, Senin (12/11/2007). Mereka ditetapkan sebagai tersangka perusakan rumah milik warga di Desa Sambirejo, Kabupaten Madiun dan Desa Madigondo, Kecamatan Takeran.

Kasat Reserse Kriminal Polres Magetan, AKP Suwono kepada detiksurabaya.com, mengatakan akan menjerat para pendekar yang melakukan perusakan dengan pasal tindak pidana.

Demi keamanan, AKP Suwono tidak bersedia menyebutkan nama pendekar yang telah ditetapkan sebagai tersangka.

Ia menambahkan ketujuh pendekar tersebut berasal dari Desa Tanjung, Suco, Bendo, Kecamatan Bendo serta Desa Kerik Kecamatan Takeran.

“Beberapa dari mereka telah mengakui melakukan pelemparan dan perusakan rumah saat mereka melakukan konvoi setelah menghadiri halal bihalal Teratai,” jelasnya, Senin (12/11/2007).

Suwono mengatakan selain menetapkan tujuh pendekar tersebut sebagai saksi, pihaknya juga meminta keterangan dari sedikitnya dari lima pendekar Teratai yang statusnya masih sebatas saksi.

Menurutnya tindakan para pendekar ini sangat meresahkan warga. Rumah-rumah warga serta pertokoan yang berada disepanjang jalan terpaksa tutup untuk menghindari aksi perusakan, penjarahan dan tindak pidana lainnya.

“Tindakan anarkis sering dilakukan oleh para pendekar. Penetapan tersangka ini semoga menjadi pelajaran bagi para pendekar lain agar tidak melakukan tindakan pidana yang merugikan warga serta dirinya sendiri,” ujarnya




http://zakysyouri.blogspot.com/2010/08/perguruan-setia-hati-winongo-vs.html

Selasa, 28 Juni 2011

WASIAT KETUA UMUM SH TERATE PADA MALAM TEMU KADANG DALAM ACARA RAKERNAS SH TERATE 2009

Assalamualaikum wr wb.

Saudara Ketua Cabang SH Terate dari seluruh pelosok tanah air dan saudara-saudaraku Keluarga Besar SH Terate yang saya cintai.

Salah satu tujuan SH Terate adalah membentuk manusia berbudi luhur tahu benar dan salah beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dalam jalinan persaudaraan kekal abadi.

Persaudaraan yang diyakini dan dianut oleh SH Terate adalah, persaudaraan utuh yang didasari rasa saling saying menyayangi, hormat menghotmati dan bertanggung jawab. Persaudaraan yang tidak memandang siapa aku dan siapa kamu, tidak dilandasi hegomoni keduniawian, seperti drajat, pangkat, martabat, persaudaraan yang tidak dibatasi suku, ras, agama dan antargolongan. Yang diyakini SH Terate satu, semua manusia yang ada di muka bumi ini pada dasarnya sama. Di mata Allah, yang dinilai adalah kadar ketakwaannya.

Persaudaraan ini utuh kalau kita ini tidak merasa, aku sing paling kuat, aku sing paling pinter aku sing paling ngerti.Kita dididik penuh kesederhana. Apa yang kita sandang (status,red) itu tidak akan berpengaruh di dalam paseduluran (persaudaraan).

Satu contoh malam hari ini.Siapa pun mereka berangkat dari mana pun, kita-kita ini tidak akan bertanya, he kowe iki sopo. kowe pangkate opo,agamamu opo, sukumu opo (kamu itu siapa, pangkat kamu apa, agama kamu apa, sukumu apa,red) tidak. Itulah saudara. Di sini kita sama, sebagai makhluk Allah, Tuhan Yang Maha Esa, yang sedang ikut berjuangkan mengajarkan dan mengamalkan ajaran budi luhur melalui organisasi paseduluran bernama SH Terate.

Jadi pada malam hari ini, bolehlah panitia mengatakan malam temu kadang. Ketemu dulur-dulur (saudara-saudara,red) .Dulur yang di Kalimantan bagaimana, dulur yang di Timor bagaimana.Malam ini kita ajak bertemu, sehingga besuk pagi itu kita sudah siap dan yang ada di pikiran kita (saat Rakernas, red) adalah apike piye (baiknya bagaimana, red) SH Terate.

Saya perlu tegaskan, SH Terate sampai sekarang masih solid. Kita ini satu dan menyatu. Saya paling takut (sempat khawatir, red), begitu saya dilapori di internet, (katanya) SH Terate makin panas. Itu tidak bener. Misi SH Terate itu hanya satu, paseduluran (persaudaraan,red). Tolong, SH Terate jangan di bawa kemana-mana. Tapi kita ada di mana-mana. (selengkapnya silakan akses ke www.shteratecantrik.blogspot.com)

Jadi dari dulu kita satu. Sejak dari lahir SH Terate paseduluran. Tujuannya, sederhana, ikut mendidik menjadikan orang itu berbudi luhur,beriman bertaqwa kepada Tuhan YME. Allah swt. Jadi tidak ada tujuan yang lain.

Ilmunya sederhana, mengenal diri sendiri. Dengan mengenal diri sendiri sebaik-baiknya, kita tidak akan sulit mengenal orang lain.Dalam arti kata, kita tidak boleh sombong. Di hadapan kita sama. Orang lain punya kekurangan, kita punya kekurangan. Dia punya kelebihan kita punya kelebihan. Tapi nasib tidak sama.Kalau kita memahami betul ajaran ini, SH Terate tetap utuh.

Mengapa saudara-saudara baru dikumpulkan sekarang? Kalau saya kumpulkan beberapa waktu yang lalu, waktunya saya pandang belum tepat. Setelah kita mendapatkan hak paten, berarti apa yang kita inginkan itu adalah satu. Di Madiun yo gene, di Irian yo ngene, di Sumatra ya begini, di Kalimantan ya begini. Sename podho, juruse podho, yen sambung yo ngono kuwi, pasang yo ngono (Senamnya sama, jurusnya sama, kalau sambung ya begitu, pasangnya juga begitu,red).

Nek pencak bedo-bedo. Mergone enek sing seneng pencak betul, enek sing paseduluran, (Kalau pencaknya, beda-beda. Ada yang suka pencak dengan memperagakan jurus ajaran, ada yang seneng memakai kembangan untuk memperindah gerak dalam sambung persaudaraan,red),
enek sing pancake juru tulis ya Andi kuwi (Andi Casiyem Sudin – Pimred Tabloid Terate, red).

Bagaimana SH Terate itu? SH Terate adalah kumpulan orang-orang yang mempunyai platform yang sama, yaitu paseduluran. Bergeraknya di dunia pencak silat. Karena itu, syarate dadi wong SH Terate kudu latihan disik (Syarat jadi orang SH Terate harus berlatih pencak dulu, red). Nek ora bisa latihan, karena phisiknya, sing murakabi SH Terate (Kalau ada orang tidak bisa latihan dengan sempurna karena catat phisik, misalnya, red) orang itu disuruh melihat pelatih main senam, jurus, pasangan. Kalau sudah paham betul, bisa disyahkan. Kalau dia tetap tidak mampu memperagakan gerak, karena kendala phisik, kalau memang jiwanya sudah betul-betul tresno (cinta,red) marang Setia Hati, dia berhak disyahkan.

Di situlah bedanya. Terus pencak silatnya bagaimana? Tetap kita urip-urip, kita pertahankan dan kita tingkatkan. Mulai sekarang, saatnya pesilat SH Terate tampil tidak hanya di daerahnya, tapi seluruh negeri, seluruh dunia.

Kalau serakang misalnya, SH Terate Kalimantan Timur, untuk mendukung pelatih pencak silat di sana ngebon dari daerah lain, saya terimakasih. Tapi, dengan mendatangkan pelatih SH Terate dari daerah lain, Kalilmantan Timur makin baik.

Untuk itulah sdr sekalian yang saya hormati, mari kita merenung, menelusuri apa yang ada di internet. Saya memang tidak pinter internet. Tapi saya dapat informasi, lalu lintas berita itu deras banget. Saya minta saudara-saudara selektif. Kalau bisa, baca dan ambil tulisan yang bersumber dari pusat. Sing penting cermat. Lebih penting lagi, dulur SH Terate tidak terjebak image bahwa SH Terate ini paguron.

Kenapa bukan paguron? Sejak awal kita dikenalkan paseduluran. Di badge kita saja, di situ tertulis persaudaraan SH Terate. Tidak ada perguruan pencak silat SH Terate. Itu sudah jadi komitmen dari lahir. Ki Hajar Oetomo, dulu dijuluki anak didiknya, Ki Hajar. Hajar itu sama dengan pendidik.

Mengapa melalui pendak silat? Pencak silat merupakan pelajaran baik jasmani maupun rokhani. Pencak silat dipilih sebagai wadah berkumpul, di samping pencak silat itu merupakan benteng untuk menjaga paseduluran.

Jadi jangan dibalik. Pencak silat jadi platform, paseduluran belakangan. Tidak begitu. Kalau begitu, akan buyar pasedulurane.( Akan hancur persaudaraannya,red)

Jadi SH Terate satu organisasi pelestari budaya bangsa. Tapi orangnya, orang yang beriman bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Ibaratnya, kita ini dekat kepada Allah swt.

Kalau SH Terate terlibat perkelahian terus-terusan sampai bertahun-tahun, sebenarnya saya nangis. Dari dulu saya ingatkan aku malah dimusuhi. Saya ajak baik malah dimusuhi.Di kala dulu itu kita terjebak. Tapi alahamdulillah, sudah sikitar empat, lima tahun ini, kita sudah baik.Sama-sama menyadari.

Masyarakat yang tadinya memusuhi sekarang sudah berangsur-angsur, percaya pada SH Terate. Dan sekarang kalau begini, sepertinya gak ada kerjaan. Saudara dari ketua ranting. di Madiun sering guyonan, Ora enek gelut ora enek gawean Mas. Sing latihan sithik ora enek sing belajar pencak. Saya tertawa aja terus mesem.

Solusinya bagaimana? Mari kita berlomba untuk berebut prestasi. Endi siang luwih apik, apik Jakarta opo apik Madiun, opo apik Kalimantan. Saatnya SH Terate berubah, kembali ke jatidiri dan menunjukkan jatidiri. Tapi harus diingat, platformnya adalah prestasi dalam olah raga pencak silat. Yakni sebagai olah raga bela diri adiluhung warisan leluhur yang tetap menjunjung tinggi sopan dan santun. Menjunjung tinggi keluhuran budi.

Kagumi Managemen Pondok Modern Gontor
Saya kagum dengan managemen Kyai Gontor. Beliau berprinsip, 90 Km itu milik Gontor. Saya merenung. Kok begitu. Mulailah saya mencari jawaban, ternyata apa pun di lingkungan Gontor, harus menjadi Gontor. Paling tidak mengerti Gontor, baik sector ekonomi, bidang dakwahnya, bidang agamanya. Kalau punya prinsip begitu, berarti Gontornya sendiri harus baik.

Ternyata betul. Gontor bisa diterima masyarakat karena memang baik. Sekarang melebar ke mana-mana, ajaran kebaikan itu disebarluaskan tamatan Gontor.

Sekarang saya ajak sedulur-sedulurku, di mana pun ada orang SH Terate, masyarakat harus bisa diayomi, bisa mengerti SH Terate. Sehingga keberadaannya dicintai masyarakat. Ibaratnya, orang SH Terate itu jadi bunganya masyarakat, bukan jadi momoknya masyarakat. Itu sesungguhnya yang diinginkan baik oleh pendahulu maupun sampai sekarang.

Sekarang SH Terate satu. Gelem yo gene ora gelem ya ngene (Mau ya begini tidak mau ya begini, red). Ajarannya satu. Nggak ada ajaran di pusat beda dengan di bawah ndak. Semua sama. Jadi kalau SH Terate ini di Tangerang atau di daerah lain, misalnya untuk pengamanan, kemudian cabang itu membentuk pasukan, saya jadi ngguyu, enek ketua umum dilatih karo ketua cabang. Itu dulu, oke bisa kita maklumi. Sekarang, apakah pembentukan pasukan keamanan itu dibutuhkan?

Kalau saya katakan bisa iya bisa tidak. Tergantung situasi. Nah kalau saudara SH Terate ini sudah guyub rukun, kita bentuk satu lembaga pendidikan, yang mengajarkan beladiri praktis, kita jual, boleh. Tapi itu bukan SH Terate. Lembaga pendidikan beladiri praktis yang didirikan oleh SH Terate. Misalnya, melatih calon petugas keamanan, atau Satpam untuk memberikan ketrampilan pada masyarakat yang pada gilirannya bisa dijadikan bekal melamar kerja. Mendapatkan kesempatan untuk memperoleh penghasilan.

Beberapa waktu lalu, ada yang kita bentuk Dewan Harkat Martabat. Saat itu memang dibutuhkan. Tapi kalau kita renungkan lebih dalam lagi, sesuai dengan era sekarang ini, akan muncul pertanyaan, lho orang SH Terate kok diawasi SH Terate. Berarti orang SH Terate tidak bisa berbuat baik. Itu image yang muncul. Terus bagaimana keberadaan Dewan Harkat dan Martabat? Tetap ada, tapi fungsinya harus kita kaji lebih dalam dan lebih disempurnakan lagi.

Untuk itulah saudara SH Terate sekalian, kita bertemu di sini. Maksud saya kalau bertemu begini ya jangan mengelompok. Harus berbaur. Di SH Terate, setelah saya sadar di SH Terate harus dibentuk tiga kelompok pilar pendidik. Satu kelompok dewan, itu yang mengurusi misi organisasi. Jadi yen wani dadi dewan (kalau berani jadi dewan, red) kudu wani ndadekake wong ( harus sanggup menjadikan orang, red) SH Terate, yang tidak ngeri menjadi ngerti. Jangan dicampur aduk tidak karuan. Tapi aturan mainya harus jelas.

Sisi lain, pilar pendidik pencak silat. Iki dibidani wong sing seneng pencak silat. Nanti kalau raker (rapat kerja, red) teknik, peserta harus benar-benar dipilih wong sing seneng pencak silat (warga yang senang pencak).Sing tuwek-tuwek ( yang sudah tua, red) seperti saya, Pak Cip dan yang lain, wis ora kanggo (melihat dan merestui saja,red) . Umur paling pol 25 – 30.

Pada sector ini, harus disadari oleh semua pihak, pencak silat di SH Terate itu juga terbagi menjadi beberapa jenis. Ada pencak silat ajaran, yang terdiri dari senam jurus, ada pencak silat bela diri untuk bertanding dan ada pencak silat seni. Gurunya juga harus dibeda-bedakan. Sepesifikasi. Ndak mungkin guru satu merangkap banyak nggak mungkin. Misalnya Sipit itu wong pinter. Tapi diubek-ubekono, Sipit iku urusane seni pencak silat. Ya bisa bertanding, tapi urusane seni ya seni. Ndak mungkin Sipit, dipindah ke bela diri. Ini harus disadari semua pihak. Organisasi, noto organisasi yang baik.

Jadi SH Terate itu tidak terpecah-pecah. Tapi spesialis-spesialis. Ini yang disadari. Kalau saat sekarang nanti, kita menyamakan persepsi. Ditindaklanjuti penataran khusus di bidang teknik. Kita bersama kali ini penataran di bidang rokhani.

Tapi kalau penataran-penataran itu, dijalankan, itu melalui studi dulu. Begitu penataran harus membuahkan hasil yang baik. Platromnya sama, siap SH Terate Cup. Kalau sekarang SH Terate Cup yang sekadar kumpul saja. Bukan meremehkan. Kalau memamg SH Terate Cup, apa kontribusi pada pesilat. Apa memang hanya kumpul sambung persaudaraan, apa ada agenda yang lain.Jadi segala sesuatu kalau kita mengadakan, harus membawakan hasil.

Saya mengharapkan dengan sangat, dalam Rakernas besuk pagi, saudara meluluhkan hati, saya orang SH Terate. Mengapa pakai nama SH? Kita ini mau tidak mau aliran SH. Tapi kita bukan SH tapi kita orang Terate. Ilmunya jangan dikira dari import, tidak. Ilmunya ilmue SH. Tapi kita orang Terate bukan orang SH.

Jadi kalau ada orang mengatakan, ini SH yang asli, silakan. Itu urusan mereka. Kita tidak ikut campur. Ndak ada yang hebat. Semua sama. Ada promosi, ini yang asli. Kalau saya tertawa. Kalau asli opo iso ngilang. Ndak, sama.

Tapi kita bangga. SH Terate lahir dari seorang pejuang Perintis Kemerdekaan. Berarti jiwa kita ini jiwa berjuang. Berjuang, kalau sekarang, mengisi kemerdekaan. Mari berlomba, apik-apikan. Apik kamu atau apik saya, di mata masyarakat. Itu jiwa seorang SH Terate.

Kalau memang orang SH Terate baik, namanya baik, masyarakat pasti akan memilih orang SH Terate karena baik. Saudara ingat Gongtor, dimana pun Gontor itu dinilai baik karena Gontor baik. Didikannya memang didikan baik.

SH Terate, dulu itu idolanya masyarakat. Tapi kita terjebak, terseret arus sampai lupa, hebat-hebatan, dan tanpa sadar dampaknya justru menjadikan SH Terate rusak. Maka sekarang mari saatnya kita kembali ke jatidiri SH Terate.

Ternyata SH Terate hanya mengemas paseduluran.Bentengnya adalah pencak silat. Alirannya aliran SH. Kalau ini dipahami semua pihak, SH Terate orang yang penuh sopan dan santun. Misalnya, saat kita berpapasan dengan orang yang lebih tua pada waktu pagi hari, kita menyapa dengan santun, Sugeng enjang Mas (Selamat Pagi, Mas). Atau kalau bertemu dengan orang yang lebih muda kita pun tidak segan-segan menyapa lebih dulu, Sugeng enjang Dik (Selamat Pagi, Dik). Sugeng dalu Pak. Jika kita mampu berbuat seperti ini, kita pasti akan dihormati disegani, disenengi.

Sebab salah satu ajaran SH Terate adalah menjadikan seseorang dihormati, disegani dan juga ditakuti. Bukan ditakui karena bolonya (temannya, red) banyak. Misal, orang kalau sama saya wedi (takut) karena bolo saya banyak. Tapi saya tidak mau diwedeni, saya cukup disenangi dan disegani. Ini sesungguhnya yang kita inginkan. Semua pihak, saya yakin bisa menyadari. Drajat pangkat apa pun yang disandang, itu hanya sementara. Pada saatnya, kenek goro-goro, sing sugih sing mlarat, sing dibacok gak tedas, halah, amblege gunun gak iso apa2.(Pada saatnya, jika allah menurunkan bencana, yang kaya, miskin, sakti, seketika berubah tak berdaya,red).

Di SH Terate dididik juga untuk dekat Yang Maha Kuasa. Contone mori, kita disyahkan pakai mori. Mori itu tandanya orang SH Terate pasrah. Siap sewaktu-waktu dipanggil Yang Maha Kuasa. Untuk dikafani.

Berarti, setiap saat kita bertindak, kita harus baik. Eling-eling nek sawayah-wayah dipundut sing kuasa (Ingat bahwa sewaktu-waktu kita dipanggil Yang Maha Kuasa, red) kita tidak bisa apa-apa. Itu SH Terate.

Orang tingkat dua, mengesahkan berhak semua mengesahkan. Itu dulu. Sekarang kita teliti dulu. Perilakunya orang tingkat dua mestine melebihi orang yang tingkat I. Perilaku sehari-hari, apalagi perilaku dia nantinya jadi panutan. Nek ngesahake, pandang mata kiri saya. Dari sini, orang SH Terate harus menyadari memperbarui, semuanya. Kalau saya mengatakan.

Kalau semuanya sudah lilih, luluh, watak sifat dengan jiwa SH Terate, jiwa kita jadi tenang dan seneng. Arep opo ae seneng. Misalnya, lihat pertandingan. Juaranya soko ngendi kae, ko Kalimantan Timur. Alhamdulillah, juarane ko Kalimantan Timur. Enek dulure sing ngopeni.

SH Terate tempat kita dididik, sesudah itu kita sebar. Sing seneng mlebu militer, militer, pns-pns, sing seneng dagang seneng dagang. Saya terus terang mimpin SH Terate ini kalau saudara ketahui boleh dikatakan saya ini slalu enomorsatukan SH Terate. Saya buktikan dulu SH Terate. Kalau tidak saya dianggap cerewet ae. Saya memang bergerak, setelah saya dirikan padepokan. SH Terate saya ajak masuk ke sector ekonomi. Sektor kita ini boleh dikatakan manembah kepada Tuhan YME. Saya masuk ke sector pendidikan. Saya masuk ke sector kesehatan.

Bangunan yang kini dimanfaatkan untuk Hotel Merak tadinya akan saya beruntukkan rumah sakit. Saya rubah jadi hotel. Sektor agama saya bangun mushola. Pendidikan ada. Satu sector kuburan (makam) , tak tawakne ora enek sing wani (saya tawarkan tidak ada yang berani) . Tapi saya menyadari wong urip itu akhirnya ke situ. Saya mulai menyadari, SH Terate lahir di Pilangbango, dibesarkan mulai besar di Paviliun, itu tidak bisa kita minta. Wong SH Terate ora ono sing kuasa ning kabupaten, Akhirnya SH Terate melanglang buana.

Beliau almarhum Mas Imam dimakamkan di Taman. Saya sebagai penerus, melahirkan lahirlah Padepokan ini.Saya mempunyai keinginan di Padepokan ini segalanya ada. Kuburan tak seleh ning kono (Makam akan saya siapkan). Biar pun saya dihalangi, karena itu pemikiran kami, saya akan menyiapkan lahan.

Jadi karena saya menyadari sirkulasi kehidupan, dari kecil kemudian kita menjadi seorang kesatria, madeg ratu, madeg pinandito, mati. KUwi mesti. Gelem ora gelem ya ngene iki. Itu ajaran SH Terate. Soal ning donya polah, tapi diaweri-aweri aku wong SH Terate. Jadi tidak akan brutal seenaknya. Saiki gagah ganteng, sepuluh tahun engkas durung karuan. Podho deyek-deyek.

Lha sekarang ini kumpul. Ini lho SH Terate tak bangun. Tak bagi. Kalau sudah dibagi ayo sekarang dibagi bareng. Sing urusan pencak ya pencak, he Mas Sakti, urusen pencak silat. Sudah.

Kita tingggal keplok. Nek elek ya dieleingake. Jadi tidak akan ada, ketua itu segala-galanya. Tidak. Jadi itulah sdr sekalian apa yang ada di SH Terate sehingga kita sebg orang SH Terate merasa bangga. Kalau sekarang saya ikut nanggung. Kalau bisuk saya ikut nangia. Kalau besuk apa yang kita inginkan tidak tercapai.

Kalau dulu izin itu sampai ke pusat. Sekarang sampai ke Polda. Kalau izin cukup di Polwil. Saya lebih bangga. Berarti SH Terate sudah bisa lebih dipercaya.

Karangan bunga itu dari SH Terate. Alangkah bahagianya kalau karangan bunga itu dari masyarakat. Berarti SH Terate diterima masyarakat. Ukurannya itu.Jadi sesungguhnya kita bisa diukur dari sini. Kalau ingin ada respek dari masyarakat, beraarti SH Terate harus lebih baik.

Itulah saudara sekalian. Saatnya kini mari kita kembali kepada jati diri. Wong paseduluran apik, ning masyarakat jadi panutan yang baik, tujuan jelas baik. Gak perlu digembor-gemborkan. Ilmunya sangat sederhana, bergerak melalui pencak silat.
Di pencak silat dididik orang itu berbudi luhur sampai ikut memayu hayuning bawono. Ini jangan jadi omongan jangan jadi slogan saja tapi kita amalkan. Rentetan terakhir sik diawer-aweri falsafah SH Terate.

Di mana falsafah SH Terate itu mengajak kita ini ibaratnya tak kenal menyarah. Menyerah kamusnya tidak ada. Masalah yang ada di dunia itu adalah kekasih yang paling mulia. Itu hanya tantangan. Ora usah ngrebut bener, tapi kita memahami betul kebenaran. Kebenaran sendiri apa kebenaran umum yang kita anut. Kebenaran SH Terate tapi diakui umum.

Kalau memahami ini gak sekarepe dewe. Buktine apa, gendhinge apa, apa nyemek apa kebo giro, itu tinggal kita yang ngatur. Lha akhirnya orang mencari SH Terate itu. Keberhasilan SH Terate. Bukan SH Terate yang ngrepek-ngrepek.Tapi SH Terate dicari.Nek SH Terate ngrepek-ngrepek jabatan, saya nangis. Kita harus mampu menunjukkan sampai SH Terate itu dibutuhkan di lingkungan masing-masing, apa itu RT, apa ketua rw, apa itu lokal, regional sampai nasional.

Kalau semua pola pikir orang SH Terate begitu, saya yakin, cita-cita pendiri akan merasa bangga. Untuk itu sdr sekalian, karena kita sudah lama tidak ketemu untuk kangenan. Nek kangenan nglompok dewe, yang adalah mung ngono wae.

Kalau ada informasi di internet, kalau itu sumbernya tidak dari pusat, saya boleh ngatakan itu tidak bener. Tapi saya boleh katakan bener. Tapi hati-hati.

Rakernas itu gini lho. Semula saya mengajak satu orang. Pucuk-pucuk pimpinan.Dimana menurut pemahaman kami, pucuk pimpinan itu harus satu kata, sata bahasa, satu gerak.

Jadi SH Terate itu tempat didikan, sesudah itu lepas dia bergerak sendiri-sendiri.Ibaratnya satu kumpulan himpunan pengusaha Terate bergerak di khusus percetakan bisa.Jadi orang SH Terate diajak apa saja bisa. Jadi tidak murni pencak, ilmu ae. Jadi saudara-saudara SH Terate itu saya ajak untuk spesialisasi. Lha nek kumpul ngene, jadi ajang ayo pencak iso opo ora.

Soal idealisme, saudara sekalian, ini adalah Rakernas pertama kali setelah adanya hak paten. Didikan rokhani akan berlanjut di pusat. Kalau teknik bisa di luar daerah. Tapi kerokhanian harus diformat di pusat. Soal organisasi bisa ditata di manapun.

Wassalamualaikum wr wb.

(Disunting dari Wasiat Ketua Umum SH Terate, H. Tarmadji Boedi Harsono, SE, pada temu kadeng pra Rakernas SH Terate 2009, di Padepokan Jl, Marak, Madiun, 16 Oktober 2009. Tulisan ini sengaja diturunkan sesuai dengan aslinya, untuk mengurangi kekeliruan pemahaman ajaran)

Senin, 17 Januari 2011

sejarah sh terate di stain jember

setia hati terate masuk stain-jember di bawa oleh "ms.veri" yang mempunyai namaasli Abdllah, pada tahun 1992.
pada waktu itu sh terate satu-satunya bela diri di setain jember.

ADA-ADA AJA

Seorang Tokoh Yang Terlupakan
Beliau adalah murid dari Ki Hadjar Hardjo Oetomo ( Pendiri PSHT ). R.M. Soetomo Mangkoedjojo adalah seorang Pendekar Tingkat III , R.M. Soetomo Mangkoedjojo disyahkan menjadi pendekar tingkat I pada tahun 1928. Berikut murid – murid Ki Hadjar Hardjo Oetomo yang disyahkan pada tahun 1928 adalah sebagai berikut :
Bapak Soetomo Mangkoedjojo ( Madiun )
Bapak Hardjosajano alias Hardjo Girin ( Kepatihan Madiun )
Bapak Moch Irsad ( Madiun )
Dewan pengesah : Ki Hadjar Hardjo Oetomo
Pelaksanaan Pengesahan : Di kediaman Ki Hadjar Hardjo Oetomo, Desa Pilangbango Madiun.
Kemudian pada tahun 1936 R.M. Soetomo Mangkoedjojo mendirikan Persaudaraan Setia Hati Terate Cabang Ponorogo, dan pengesahan pertama dilakukan pada tahun 1938 yang mengesahkan sebanyak 4 orang.
Pada tahun 1948 beberapa murid Ki Hadjar Harjo Oetomo antara lain Soetomo Mangkoedjojo, Darsono, Suprodjo, Hardjo Giring, Gunawan, Hadisubroto, Hardjo Wagiran, Letnan CPM Sunardi, Sumadji al. Atmadji, Badini, Irsad dan kawan – kawan mempunyai prakasa untuk mengadakan konfrensi di tempat kediaman Ki Hadjar Harjo Oetomo . Tujuan diadakan konfrensi tersebut adalah untuk merubah / mengganti sifat Perguruan menjadi Organisasi Setia Hati Terate yang mempunyai Anggaran dasar dan Anggaran Rumah Tangga. Setelah Organisasi Persaudaraan Setia Hati Terate dikukuhkan menjadi suatu organisasi maka di pilihlah R.M. Soetomo Mangkoedjojo sebagai ketua dan Bapak Darsono sebagai wakil ketua.
Kemudian pada tahun 1953 karena pekerjan beliau dipindah tugaskan ke Surabaya selanjutnya Ketua Persaudaraan Setia Hati Terate diserah terimakan kepada bapak Irsad.
Pada tahun 1958 R.M. Soetomo Mangkoedjojo mengesahkan Sdr. R.M Imam Kussupangat, Sdr. Kuswanto. BA dan Sdr. Harsanto. SH menjadi warga tingkat I, pengesahan dilakukan di Oro – Oro Ombo Madiun di rumah Bapak Santoso.
Pada tahun 1963 R.M. Soetomo Mangkoedjojo melatih langsung Sdr. R.M Imam Kussupangat tingkat II. Dan pada tahun 1964 Sdr. R.M Imam Kussupangat disyahkan menjadi warga tingkat II, pengesahan dilaksanakan di Jl. Diponegoro 45 Madiun oleh R.M. Soetomo Mangkoedjojo sebagai Dewan Pengesah.
Pada tahun 1966 Sdr. R.M Imam Kussupangat mulai menjalani latihan tingkat III karena dianggap berhak untuk menerima ilmu Setia Hati tingkat III oleh R.M. Soetomo Mangkoedjojo. Dimana ilmu tersebut berdasarkan “Wahyu” dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Semenjak itu Sdr. R.M Imam Kussupangat dimulai latihan tingkat III dilatih dan disyahkan oleh R.M. Soetomo Mangkoedjojo ( sebagai Ketua Dewan Pusat dan Dewan Pengesah ). Maka dari itu Sdr. R.M Imam Kussupangat tidak lepas sedikitpun peranan dan bimbingan dari R.M. Soetomo Mangkoedjojo sebagai pelatih atau disebut sebagai guru dalam pendidikan tingkat II maupun tingkat III
Tahun 1974 diselenggarakan Musyawarah Besar ( MUBES ) I Persaudaraan Setia Hati Terate dengan kesepakatan mengangkat R.M. Soetomo Mangkoedjojo sebagai Ketua Dewan Pusat Persaudaraan Setia Hati Terate dan R.M. Imam Kussupangat sebagai Ketua Umum Pusat.
Pada tanggal 14 Desember 1975 R.M. Soetomo Mangkoedjojo wafat dan dimakamkan di Makam Cangkring Madiun.
Berikut adalah kedudukan yang pernah dipegang oleh R.M. Soetomo Mangkoedjojo dalam organisasi Persaudaraan Setia Hati Terate
Tahun 1948 adalah Ketua Umum Pusat yang pertama Persaudaraan Setia Hati Terate
( dari " perguruan “ menjadi “ organisasi “ )
Tahun 1956 Ketua Umum Pusat Persaudaraan Setia Hati Terate,
Tahun 1964 Ketua Umum Pusat Persaudaraan Setia Hati Terate
Tahun 1974 Ketua Dewan Pusat Persaudaraan Setia Hati Terate
Demikian sedikit perjalanan hidup tentang R.M. Soetomo Mangkoedjojo, mudah – mudahan dengan sedikit catatan ini bisa membantu untuk tambahnya pengertian dan pengetahuan kita semua agar wawasan sejarah berdirinya Persaudaraan Setia Hati Terate sampai dengan perkembangannya dapat kita ikuti dan ketahui bersama secara tepat dan benar